Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Walidah dibalik “Sang Pencerah” Umat

“Dibalik lelaki yang hebat terdapat wanita yang hebat” kalimat ini dikutip Zaskia Adya Mecca dalam menggambarkan peran Siti Walidah sebagai istri dari KH Ahmad Dahlan. Kekaguman Zaskia yang memerankan Walidah ini mampu diaktualisasikannya dalam peran di film Sang Pencerah. Beberapa adegan yang ditampilkan, membuat Nyai kiai Kauman tersebut tak kelihatan sebagai perempuan desa yang hanya sekedar tampil saja. Bahkan beberapa masalah yang dihadapi Kiyai Dahlan, selalu terselesaikan karena semangat dan kata-kata dari istrinya. Misalnya dalam satu adegan, dimana Kiyai Noor, kakak kandung Walidah, meminta agar Walidah menyuruh suaminya untuk berhati-hati dengan apa yang dia lakukan karena sudah dianggap sesat. Tetapi, Walidah hanya berucap kalau sebagai istri, apapun yang dilakukan suaminya harus dia dukung. Karena dia yakin apa yang dia lakukan suaminya sudah benar. Memang benar, hubungan kekeluargaan sangat berharga, tetapi mematuhi suami, dalam gambaran film besutan Hanung Bramantyo ini adalah kewajiban istri. Atau dalam adegan lain, dimana percakapan Ahmad Dahlan dan Walidah terjadi ketika kebimbangan menghinggapi Dahlan. Walidah mengucapkan bahwa dia tidak pernah melaksanakan shalat istikharah seperti yang disuruhkan ibunya untuk meminta jawaban apakah Ahmad Dahlan merupakan jodohnya atau bukan. Tetapi, dia melakukan shalat hajat karena dia yakin kalau Dahlan merupakan lelaki yang dia yakin dipilihkan Tuhan menjadi suaminya. Saya membayangkan bagaimana perasaan Ahmad Dahlan mendengar perkataan istrinya. Saya sendiri yang mendengar kalimat itu bergetar, dan memikirkan bagaimana perasaan senang dan semangat yang seakan terpompa mendengar kalimat-kalimat penyemangat seperti itu. Lelaki mana yang tak bergetar hatinya mendengar kalimat-kalimat penyemangat seperti itu!
Dalam film yang berdurasi 112 menit ini, sosok Walidah yang tipe wanita jawa pendiam dan “nrimo” ini bukanlah tokoh sentral. Tapi, Walidah tidak hanya sekedar pelengkap dalam film. Dia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendiri Muhammadiyah ini. Penonton mungkin hanya akan terfokus pada perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Islam di Yogyakarta dan pertentangan-pertentangan yang dihadapinya dengan Kiyai-kiyai besar. Tetapi, yang perlu dicatat pula, ada perubahan pola pikir yang saya dapatkan mengenai gambaran perempuan di film ini. Gambaran perempuan yang berbeda dengan apa yang saya dapatkan dalam sejarah budaya perempuan dahulu.
Kegigihan Walidah, pendiri Aisyiyah ini mengambarkan betapa hebatnya perempuan di belakang Ahmad Dahlan. Memang tak digambarkan bagaimana ia mendapatkan pendidikan formal dalam sekolah umum, bahasa apa saja yang dia kuasai, bagaimana perkumpulan Aisyiyah yang dia bentuk (karena filmnya lebih condong tentang Ahmad Dahlan), atau bagaimana perjuangannya menegakkan Islam dalam film itu. Tetapi, bagaimana ia bersabar berada di samping suaminya dan mengurusi anak-anaknya, itulah yang saya sebut sebagai bentuk perjuangan seorang perempuan. Beliau dalam referensi yang saya dapatkan, menjadi terkenal karena kepintarannya dalam ilmu agama. Ilmu yang didapatkan dari suaminya. Pada awal revolusi, Nyai Dahlan dalam usianya yang sudah uzur masih giat membantu perjuangan para pemuda Indonesia. Beliau kemudian ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada 1971.

Perempuan dan budaya politik
Budaya kita pernah menggambarkan bagaimana tipikal perempuan Indonesia pada jaman dulu. Perempuan yang patuh dan tidak diperbolehkan untuk protes. Perempun yang posisinya hanya berada pada ruang dapur dan tempat tidur. Fatimah Mernissi pernah mengungkapkan bagaimana seorang perempuan muslim yang dibesarkan untuk melulu menaati perintah-perintah, menyelinap ke dalam posisi subordinat ternyata masih menjadi bagian dari perempuan generasi ini. Mernissi dalam buku Perempuan di Garis Depan (2000) juga pernah menolak ucapan Mohammed Arafah yang mengatakan bahwa kaum perempuan sama sekali tak mempunyai hak politik, alasannya karena di zaman Nabi-di saat Nabi membangun negara muslim- juga tak pernah mendapatkan hak itu.
Politik tentu saja tidak hanya berkutat dengan partai, lembaga, dan pemilihan presiden. Apa yang dilakukan Walidah sebenarnya secara tidak langsung menggambarkan bagaimana perempuan pada zaman itu mulai masuk pada ranah politik. Menurut saya, dukungan-dukungan yang dilakukan Walidah pada Kiyai Dahlan bahkan beberapa hanya dalam gerak dan mimik, sebenarnya sudah merupakan bagian dari keterlibatannya dalam dunia politik pada masa itu. Bagaimana seandainya jika Walidah hanya menjadi perempuan yang tidak mau tahu apa yang dilakukan suaminya? Atau bagaimana jika Walidah tidak pernah diajak berdiskusi oleh suaminya dalam hal apapun yang menyangkut perjuangannya. Barangkali, Muhammadiyah hingga kini tak akan pernah ada. Perempuan seperti Walidah, walaupun tak pernah mengenyam pendidikan sampai S3 pun menjadi gambaran kita bahwa kesederhanaan perempuan muslim sebenarnya tidak bisa menjadi patokan model-model pergerakan feminisme kekinian. Saking hebatnya beliau, Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Presiden RI Pertama, Soekarno, pernah mengunjunginya untuk bertukar pikiran.
Perempuan sesederhana Walidah, mempunyai pengaruh besar dalam dunia politik di Indonesia. Lewat film ini saya belajar, untuk menjadi perempuan yang hebat dan dikenang bangsa, sekolah sampai program Doktor rasanya tak perlu. Saya hanya ingin menjadi Walidah, perempuan hebat yang sederhana, yang menjadi bagian dari perjuangan Islam di Indonesia. (Makassar, 17 September 2010)

AF Astrid, pemerhati masalah sosial perempuan. Tercatat menjadi dosen Komunikasi di beberapa PTS di Makassar

Rabu, 26 Maret 2008

Wanita, Kenali Bahasa Anda!

“Semakin kenal aku seorang wanita, semakin tak mengertilah aku akan dia”, begitu ujar Shakespeare melihat sosok wanita."

Ya, wanita ternyata menyimpan sisi yang lain dari segi bahasa. Mereka, secara tak sadar menggunakan bahasa yang menjadi pakem mereka. Walhasil, kaum pria menganggap kalau wanita adalah makhluk yang misterius. Seperti anggapan Shakespeare tadi.

Secara mendasar, antara wanita dan pria memang berbeda dari segi fisik. Seperti yang diutarakan Dr. Deddy Mulyana dalam bukunya berjudul Nuansa-nuansa Komunikasi. Pada waktu lahir, bayi laki-laki lebih berat daripada bayi perempuan. Pria memiliki lebih banyak kadar air dalam tubuhnya daripada wanita. Kalau pria berkisar 60-70%, maka wanita hanya 50-60%. Itulah sebabnya, pria lebih mampu mencairkan minuman keras dan pengaruhnya. Pria memiliki kecenderungan buta warna, sementara wanita tidak.

Dari segi biologis, pria ternyata lebih agresif daripada wanita. Hal ini disebabkan karena pria memiliki hormon testosteron. Wanita memiliki struktur otak yang berbeda sehingga mereka lebih unggul secara verbal. Karenanya, wanita lebih berbakat dalam bidang bahasa dan pria dalam matematika dan ilmu ukur.

Adalah Robin Lakoff (1975) mengemukakan bahwa ternyata wanita memiliki bahasa yang secara tak sadar terbentuk. Hal ini disebabkan adanya stereotip yang dibentuk wanita itu sendiri. Misalnya saja, wanita berbicara lebih sopan daripada pria dan pembicaraan kaum wanita biasanya tidak tegas. Wanita juga dinilai lebih sering bergosip daripada pria, bertele-tele, lebih emosional, dan terperinci.

Dari penelitian Lakoff di Amerika, tercatat beberapa ciri bahasa wanita yang muncul akibat stereotip tadi. Wanita memiliki kosakata khusus yang berkaitan dengan minat mereka. Misalnya saja, wanita lebih mengembangkan nama-nama warna dibandingkan pria. Muncullah nama-nama warna yang lain dari wanita seperti magenta, puce, atau teal. Wanita juga memiliki kata-kata yang dianggap hambar, seperti lovely, sweet, cute, atau charming. Wanita sering menggunakan kata-kata penguat, misalnya so, very,dsb. Wanita juga dianggap kurang memiliki rasa humor. Mereka dirasa kurang pandai melucu dan sering tidak paham arti lelucon yang disampaikan pria.

Beberapa penelitian sesudahnya ternyata membenarkan penelitian Lakoff. Misalnya Julie McMillan (1977) meneliti berbagai kelompok orang yang masing-masing terdiri dari lima hingga tujuh orang. Ternyata, semua kelompok wanita menggunakan kata-kata penguat seperti very dan so, sebanyak enam kali lebih banyak daripada pria. McMillan juga menemukan, bahwa dalam situasi komunikasi yang sebenarnya, wanita memakai tag questions (kalimat ekor tanya) tiga kali lebih banyak daripada pria.

Penelitian lain juga melaporkan efek bahasa wanita yang digunakan dalam ruang pengadilan. Penelitian itu menunjukkan penggunaan bahasa wanita (terlepas dari apakah digunakan wanita atau pria) secara konsisten menghasilkan reaksi-reaksi yang merugikan. Ketika bahasa wanita digunakan, pembicaraannya dinilai kurang jujur, kurang cakap, dan kurang cerdas. Namun, penelitian itu memperlihatkan bahwa adapula pria yang menggunakan bahasa wanita dan ada wanita yang tidak menggunakannya sama sekali.

Peneliti lain, yaitu Patricia Bradley (1981) juga menemukan bahwa penggunaan kata atau frase yang melemahkan kata dan frase lain, serta tag questions, menimbulkan efek yang merugikan dalam kelompok (diskusi) kecil bila strategi-strategi linguistik itu digunakan wanita. Dalam hal manajerial, menurut Baird dan Bradley (1979), kalau pria dipersepsi lebih dominan, cepat menantang orang lain, dan mengarahkan jalannya percakapan. Sedangkan wanita lebih unggul dalam menunjukkan kepedulian dan perhatian pada orang lain.

Adapula peneliti yang menemukan bahwa wanita lebih unggul daripada pria dalam mengekspresikan ketakutan, kecintaan, kemarahan, dan kebahagiaan. Buck (1974) menemukan bahwa wanita dewasa menampilkan wajah lebih ekspresif dan merupakan komunikator nonverbal yang lebih cermat. Selain itu, wanita juga lebih banyak melakukan kontak mata. Tetapi karena keseringan pengiriman pesan no-verbal itu, akhirnya wanita dianggap emosional dan kurang mampu mengendalikan diri. Disamping itu, perilaku wanita dianggap sering menyetujui diam-diam aau bahkan submisif. Misalnya, wanita lebih merendahkan pandangan mata, memiringkan kepala, menunjukkan postur yang kaku, dan mengalah pada invasi ruang yang dilakukan pria.

Untuk wanita Indonesia sendiri, sebenarnya tidak jauh beda dengan perilaku bahasa wanita di Amerika. Berdasarkan kerangka bahasa wanita yang dipaparkan Lakoff, dapat ditemui bberapa hal berikut ini.

Wanita memiliki kosakata tertentu mengenai warna, misalnya nila, salem, marun, tosca, dan kata-kata sifat tertentu seperti mungil, indah, lucu, elok. Sedangkan pria, mungkin lebih banyak menggunakan kata-kata jorok. Wanita Indonesia juga senang menggunakan kalimat ekor tanya, misalnya, “Ia tampan, kan?”. Mereka juga senang menggunakan kata-kata penguat seperti; begitu, demikian, sangat, sungguh, atau seperti. Adapula kata-kata atau frase yang melemahkan kata atau frase lain yang juga mereka digunakan. Misalnya; mungkin, saya kira, anda tahu, dsb. Tak ketinggalan pula frase-frase yang sangat sopan, misalnya: “Sudikah anda…?”, “Saya akan senang apabila anda…”,dst

Agaknya, wanita Indonesia juga lebih pandai menggunakan bahasa non verbal dan mendeteksi perilaku nonverbal orang lain. Itulah sebabnya, mengapa wanita dikatakan makhluk yang sangat peka. Selain itu, untuk wanita yang berstatus ibu, mereka akan lebih peka apabila terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Bagaimana dengan anda?

Rentan, Perempuan Terserang Depresi!

Sebagai seorang istri, apalagi istri seorang tentara, perpindahan tugas bagi mereka adalah hal yang wajar. Tapi tanpa diketahui, tidak semua perempuan mampu menyesuaikan dirinya pada tempatnya yang baru. Hal inilah yang kemudian mampu menimbulkan distres emosional yang disebut depresi!

Bagaimana seandainya, jika lingkungan awalnya, seorang ibu rumah tangga penuh dan mengikti segala aktivitas kegiatan PKK (dalam hal ini Persit) dan punya waktu untuk beraktivitas lainnya. Kemudian, setelah pindah di kota kecil, si ibu tadi benar-benar tidak mampu menyesuaikan kesenangannya dengan lingkungan yang baru. Rutinitas yang statis pun harus menjadi bagian dari hari-harinya. Ia merasa tidak memiliki kesempatan mengintegrasikan kebutuhan pribadinya dengan aktivitas yang dilakukannya sebagai ibu rumah tangga. Keadaan ini membuat akhirnya dapat mengakibatkan depresi, dan depresi merupakan penghayatan emosional yang biasa dihadapi perempuan.

Peluang perempuan dilanda depresi memang dua kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Pengalaman ketidakberdayaan merupakan kondisi di mana seseorang merasa tidak pernah mendapat penghargaan dari apa yang dia lakukan dalam keseharian. Teradang kita merasa kurang mendapat kepuasan dari lingkungan, serta kurang mendapat penguat positif. Akhirnya, kita pun merasa diri kurang hadir karena apa yang dilakukan hanya terkait dengan peran tradisional perempuan. Misalnya, menyediakan sarapan untuk suami dan anak-anak, mengurus kebersihan rumah, memasak, mencuci piring, dan sebagainya.

Menurut Martin Seligman, peneliti dan psikolog, apabila seorang perempuan merasa tidak memberi pengaruh apa pun pada lingkungannya, perempuan itu akan mengembangkan perasaan apa yang dilakukan tidak berarti apa pun. Bila perasaan ini menetap, maka hasilnya adalah perasaan depresi berlanjut. Misalnya saja, seorang perempuan merasa mentok karena kariernya terhambat diskriminasi jenis kelamin. Ia akan merasa tidak suatu hal pun dapat dilakukan untuk memperoleh kesempatan promosi. Ia akan menderita depresi. Bila ia telah beberapa kali mengalami kegagalan pada masa lalunya, perasaan depresi akan dihayati menyeluruh dan mungkin berkembang ke arah sikap pesimis terhadap efektivitas setiap hal yang dia lakukan.

Apabila ini berkembang, maka ia dipastikan akan merasa depresi. Biasanya keadaan ini akan diikuti perasaan “daripada mencoba sesuatu yang baru, ia akan memutuskan untuk tidak melakukan apa pun”. Masalah yang ada sebenarnya, seorang perempuan mengamati dirinya sebagai seseorang yang tidak memiliki kemampuan mengendalikan apa yang terjadi dalam dirinya saat itu yang membuatnya terdorong ke arah kondisi depresi.

Yang menyedihkan adalah, janda yang ditinggal mati atau cerai yang berada dalam lingkungan masyarakat luas, cenderung menemukan dirinya berada dalam keadaan depresi. Banyak perempuan yang hidup pada masa sebelum tahun 1970-an atau kini pun yang menghadapi kenyataan tersebut. Yaitu dalam peran sebagai ibu rumah tangga, seorang istri menumpahkan seluruh perhatiannya untuk mengurus rumah tangga. Sementara itu, suami tidak merasa, bahkan tidak menyadari, apa yang mereka peroleh dari keberadaan istri dan usaha istri yang selama ini menumpahkan perhatian kepadanya.

Perempuan setelah menikah, cenderung menyerahkan kekuatan dasarnya sendiri. Perempuan seperti ini sering rela mengabaikan latar belakang pendidikannya untuk mendukung pendidikan suami dengan harapan, suaminya akan membalas budi. Namun, bila di kemudian hari perempuan ini justru kecewa dalam perkawinannya, maka kenyataan yang dia hadapi adalah mendapati dirinya tanpa pekerjaan dan tidak berdaya menghidupi diri sendiri. Serta-merta mereka akan menderita depresi berat.

Pada artikel Aaron Beck berjudul depresi pada perempuan, mengungkapkan bahwa gadis kecil mendapat penghargaan dari lingkungan karena kecantikannya dan bukan karena prestasinya. Banyak anak gadis mendapat penekanan khusus justru pada stereotip femininitasnya dalam hal kecantikan, erotisme, dan keindahan perilakunya. Bila mereka sudah memiliki semuanya, mereka dipastikan dapat meraih cita-cita untuk hidup senang dengan menikahi laki-laki kaya untuk kemudian sesuai dengan mimpinya mendapat rumah besar dengan kolam renang, punya mobil banyak, dan perhiasan berlimpah, namun bukan dari hasil kerja sendiri. Dengan perkawinan tersebut ia juga sekaligus memperoleh status sosial tertentu dan bisa saja menjadi sangat terkenal.

Untuk itu, dengan tetap mempertimbangkan kebersamaan dalam ikatan perkawinan, jadilah pribadi yang tetap berdiri atas identitas diri, oleh prestasi pribadi, demi terhindar dari depresi berlanjut di kemudian hari. Jangan pernah merasa terlalu tergantung pada suami. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita selanjutnya.(AST-dari berbagai sumber)

pernah dimuat di majalah citrabuana, kodam VII/Wrb

Menengok Perjokian yang Tak Pernah Mati

Oleh AF.Astrid

Taman Academos adalah sebuah cita-cita Plato yang direalisasikannya dengan sangat sederhana. Hanya mencipta tempat dimana orang-orang dapat lebih mengerti apa itu pendidikan. Plato pada waktu itu, mungkin lebih melihat potensi orang-orang cerdas yang akan mubazir kalau tidak dikumpulkan dalam satu wadah. Maka terciptalah tempat yang berlatar alam itu sebagai tempat berbagi ilmu dan menambah rasa haus akan ilmu pengetahuan itu.

Universitas, sebagai lembaga pendidikan tingkat akhir, awalnya pasti tidak jauh beda dengan model Academos. Yaitu, tempat mencipta pemikir-pemikir handal yang mampu memberikan sedikit perubahan bagi dunia. Universitas, tidak lagi digunakan sebagai tempat untuk mengajarkan norma-norma dan kesantunan, karena sekiranya hal itu sudah kita dapatkan pada bangku sekolah dasar, bahkan Taman Kanak-Kanak.

Seyogyanya, universitas memang menjadi tempat lahirnya para pemikir dan pekerja dalam artian sudah memiliki keahlian masing-masing. Dari tahun ke tahun, universitas, baik itu negeri maupun swasta tak pernah sepi oleh kurang lebih 10.000 peminat. Alasannya, salah satunya adalah adanya budaya yang sepertinya terlalu menghakimi orang-orang ‘tak bergelar’. Tentu kita semua tahu, budaya yang dicipta masyarakat membuat bahwa titel merupakan alat pendongkrak prestise keluarga di lingkungannya. Secara tidak langsung, cita-cita Plato mengalami pembiasan. Buktinya, tidak banyak ‘intelektual’ yang telah ditelorkan oleh universitas. Kebanyakan adalah para pemikir yang hanya bisa membicarakan keadaan tanpa ada gerakan riil. Adapun untuk tenaga keahlian seperti dokter,lawyer, dan sejenisnya, memang sangat menjamur tapi tak ‘laku’ semua. Itupun pada akhir mereka sarjana, tidak semua sarjana mencari kerja sesuai dengan jurusan yang dikenyamnya waktu kuliah.

Pada akhirnya, uang yang dikeluarkan para orang tua untuk membiayai kuliah anak-anaknya tidak lagi bertujuan agar anak-anaknya bisa lebih cerdas dan lebih bisa membawa keterpurukan sosial ekonomi lebih baik. Tapi, uang yang dikeluarkan mereka tidak lebih dari sekedar membeli sebuah prestise yang dinamakan gelar dan kebanggaan.

Untuk menjadi bagian dari universitas (yaitu mahasiswa) terlebih dahulu seseorang harus menempuh jalur SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) yang dulunya lebih dikenal dengan istilah UMPTN. Tentu saja karena ada perubahan niat memasuki universitas, maka segala cara pun dilakukan dalam seleksi penerimaan ini. Salah satunya adalah menggunakan jasa ‘joki’.

Sekilas Tentang Joki

Terkait dengan kesimpulan tadi, bahwa universitas dimaknai hanya sebagai pencetak kebanggaan dan prestise dengan dalih titel (untuk sebagian besar masyarakat kita), maka muncullah para ‘malaikat pembantu’ yang dipanggil joki. Dari sekitar 13.000-an pendaftar (untuk Unhas saja) perhitungan secara kasar, yang menggunakan jasa joki sekitar 5-10%.Tidak diketahui sejak kapan sistem perjokian ini muncul. Awalnya, joki hanya sebuah istilah untuk orang yang memberikan jawaban dengan masuk menjadi salah satu peserta ujian. Lambat laun, pekerjaan joki ini pun meluas. Para calon Maba, bisa menggunakan jasa joki misalnya dengan diberikan jawaban sebelumnya (kalau memang ada kasus ‘soal bocor’!). Selain itu yang marak saat ini adalah sistem joki via hp, yaitu para joki memberikan jawaban kepada calon maba yang dibantunya dengan mengirimkan sms atau langsung ditelepon.

Imbalannya tidak tanggung-tanggung. Mulai dari 1-20 juta bisa dikantongi oleh para joki dari calon Maba yang lugu ini. Harga yang begitu mahal yang mereka bayar hanya untuk mendapatkan status mahasiswa!

Sekali lagi, tidak lepas dari sistem kebudayaan kita yang masih mendewakan pangkat dan titel, calon Maba pun melakukan segala cara untuk dapat lulus ujian seleksi ini. Apapun caranya! Tapi pertanyaannya adalah mengapa perjokian ini masih saja diminati dan masih akan hidup untuk waktu yang tidak kita ketahui. Padahal kita ketahui, begitu banyak peraturan yang diciptakan untuk memperketat ujian seleksi ini. Dan tentu saja, perjokian sampai kapanpun tidak dihalalkan dalam ujian ini.

Tiap tahun memang ada saja yang ditangkap basah dengan praktek perjokian ini. Baik ‘korbannya’ sendiri bahkan sampai jokinya juga. Sistem komunikasi yang begitu murah –dengan tersedianya kartu perdana eceran- tentu saja lebih memudahkan mereka untuk tidak terlacak apabila terjadi kegagalan operasi perjokian pada calon Maba. Walaupun ada peraturan yang mengatur untuk meregistrasi nomor, toh tidak terlalu mempengaruhi kurangnya kasus-kasus penipuan. Sekitar 3-4 orang mampu ditangkap dan diamankan atas praktek perjokian ini. Tapi sayangnya, mungkin pengguna jasa joki yang ditaksir kira-kira lebih dari 100 orang itu tak bisa dibongkar sindikatnya. Permainan antara pengawas-joki-calon Maba pun terkubur seiring selesainya pelaksanaan SPMB. Lebih naif lagi, tahun lalu malah ada media yang memberitakan pelaksanaan SPMB ‘aman dan berjalan lancar’.

Para pengawas yang jumlahnya kurang lebih seribu orang itu (2-3 orang/ruangan) tentu tidak bisa disalahkan sepenuhnya dengan tidak tertangkapnya joki yang lain. Bukan rahasia umum lagi, kalau beberapa oknum pengawas juga terlibat atas perjokian ini. Lebih lagi, honor yang didapat para pengawas hanya sekedar uang pelepas dahaga dan rokok.

Akhirnya, lingkaran sistem perjokian ini sama sekali tidak bisa dimusnahkan. Jangan disalahkan kalau calon maba inilah yang kemudian akan meneruskan perilaku korupsi yang ada di Indonesia. Lha wong, masuknya saja sudah tidak halal!

Bimbingan Belajar pun ‘Bermain’

Adalah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang menjadi pilihan utama bagi siswa untuk membantu mereka dalam meningkatkan persiapan SPMB. Untuk wilayah Makassar sendiri, sekitar sepuluh LBB telah hadir menjamur dengan beragam program. uang yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, bahkan ada yang sampai 5 juta untuk program yang disebutnya Vip. Toh, masing-masing LBB memberikan tips dan latihan untuk persiapan SPMB. Tidak hanya yang berstatus siswa, adapula yang berstatus alumni ikut menyemarakkan bimbel-bimbel.

Satu hal yang menarik, LBB selalu saja menggunakan kata ‘jaminan’ lulus pada mereka. Kalau tak lulus, uang kembali, itu pula yang mereka sebutkan. Beberapa LBB memang berusaha keras untuk meloloskan siswanya ke universitas. Selain membantu mereka dalam latihan soal-soal, ternyata adapula LBB yang membantu mereka secara langsung dalam pelaksanaan SPMB, yaitu mengirimkan jawaban. Tentu saja sebelumnya, siswa ditawari dengan kompensasi memberikan uang pelicin. Entah itu untuk menyuap pengawas atau untuk mencari orang-orang ‘pintar’ dalam membantu mereka mengerjakan soal-soal. Walaupun tidak semua jawaban yang diberikan benar 100%, tapi setidaknya sudah sedikit membantu mereka. Secara riil, ini jelas dikategorikan bagian dari perjokian. Tentu saja, gambaran perjokian sudah dilembagakan akhirnya tergambar jelas.

Lucunya, kalau pada akhirnya mereka akan dibantu dalam ruangan untuk menjawab soal-soal SPMB, lalu kenapa para siswa harus capek-capek mengikuti latihan, try out dan program tambahan untuk persiapan SPMB?! Yang jelas, bimbingan belajar ini telah menciptakan tempat dimana joki dilembagakan! Secara tidak langsung, lembaga bimbingan belajar yang terkait dengan perjokian ini telah melakukan tindak pidana penipuan baik terhadap pelaksanaan SPMB, maupun terhadap siswa-orang tua yang mempercayakan dirinya pada LBB tersebut.

Masih jelas di ingatan penulis, peristiwa tahun lalu tentang terungkapnya kasus perjokian. Sebuah nama LBB pun turut terseret. Nyatanya hari ini, LBB yang ditengarai berbisnis joki itu masih bisa memberikan janji-janji kepada calon siswanya. Tanpa ada sanksi yang jelas.

Secara teori, pendidikan menjadi alasan utama agar orang bisa lebih pintar. Tapi nyatanya, tidak semua pendidikan bisa memberi nilai lebih pada masyarakat. Adanya sistem budaya yang membuat masyarakat takut tidak mendapatkan pengakuan sosial, akhirnya telah mencoreng muka pendidikan di Indonesia ini.

Adanya komersialisasi pendidikan seperti yang pernah diungkapkan Erich Fromm sedikit mengaburkan tujuan pendidikan tadi. Begitu mahalnya biaya pendidikan, khususnya universitas membuat masyarakat menjadi lebih berpikir konservatif terhadap universitas ini. Seperti yang tadi sudah diungkapkan, membayar mahal saat ini tidak lagi ditujukan untuk mencerdaskan manusia, tapi mengangkat prestise dan memberi kebanggaan dari gelar yang didapatnya. Siapa yang dapat keluar dari jeratan budaya seperti ini, kalau bukan kita sendiri yang mengubahnya. Jadi siapkah anda?

*(pernah dimuat di Harian Fajar Makassar)

Perempuan, estilo, dan cagub sulsel

yang pertama akan saya tulis disini adalah tentang estilo. pernah dengar? ya, estilo itu salah satu produk mobil karimun yang diembeli estilo. kenapa estilo, karena kata p’subronto laras, estilo tu menggambarkan gaya, style si pengemudi…jadi kayak anak muda gitu deh….

waktu launching 1 juni 2007 lalu di Mall Panakukang Makassar, saya sempat tercengang dengan kemunculan dancer perempuan. tidak salah memang kalau memunculkan dancer pada acara launching. tak salah karena memang mereka diharapkan mampu mendiskripsikan kehadiran karimun estilo. tapi, yang sangat disayangkan, karena mereka memakai pakaian yang sangat minim…lubang tengah hampir menyerupai bikini. selain itu, beberapa adegan pun cukup seronok. mungkin tidak akan jadi masalah kalo mereka menari di pub atau di diskotik.

tapi, ini kan mall!!!! bukan hanya usia dewasa ke atas, tapi anak-anak kecil juga….

lebih memiriskan lagi, karena salah satu orang nomor satu-nya sulsel yang digadang menjadi calon gubernur, menonton tarian itu sambil tersenyum dan tak berkedip sedikitpun…..

kenapa tidak ada langkah untuk menyetop acara. yah, walaupun pada penampilan kedua mereka, pakaiannya sudah agak sopan….tapi tetap juga tak ada artinya, kalo tarian seronok sebelumnya sudah terekam di kepala bocah-bocah polos itu……

Ponsel Pun Jadi Sumber Penyakit!

Semakin berkembangannya teknologi ternyata tidak selamanya berdampak positif terhadap kehidupan masyarakat. Contohnya saja penggunaan ponsel, walaupun memudahkan dalam hal komunikasi, disisi lain, bisa jadi sumber penyakit.

Sejak beberapa bulan belakangan ini, Asriyanti sering merasa sakit kepala. Bahkan biasanya dibarengi dengan rasa mual. Hal ini pun membuat Yanti mengira-ngira apa yang terjadi padanya. Dia pun langsung mengklaim bahwa ponsel yang ia gunakan bisa saja menjadi sumber masalah derita yang dialaminya. Pasalnya, dia pernah mendengar bahwa radiasi yang dipancarkan oleh ponsel memang bisa mempengaruhi kondisi tubuh bahkan sampai menyebabkan kanker otak!

Walaupun dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa quantum energi yang ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik ponsel, secara kuantitas relatif masih kecil. Hanya berkisar seper sejuta elektron Volts. Namun, kalau jarak sumber radiasi dengan materi, yaitu jarak antara pesawat ponsel dengan kepala (khususnya telinga) diperhitungkan, maka dampak radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel tidak boleh diabaikan begitu saja. Hal ini ditambah lagi dengan intensitas radiasi elektromagnetik yang diterima oleh materi (kepala khusus bagian telinga), akan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Artinya makin dekat dengan sumber radiasi (ponsel) akan makin besar radiasi yang diterima. Persoalan akan lebih menarik lagi, kalau waktu kontak atau waktu berbicara melalui ponsel diperhitungkan, maka akumulasi dampak radiasi akibat pemakaian ponsel perlu dicermati lebih jauh lagi.

Suatu penelitian yang pada saat ini sedang dilakukan di Universitas Lund (Swedia) menunjukkan bahwa radiasi yang dipancarkan oleh ponsel dapat mempengaruhi fungsi enzim dan protein. Penelitian yang dilakukan terhadap tikus percobaan menunjukkan adanya perubahan biokimia dalam darah tikus, yaitu terjadinya perubahan protein albumin yang berfungsi dalam memasok aliran darah ke otak. Professor Leif Salford seorang peneliti masalah dampak pemakaian ponsel terhadap kesehatan, mengatakan bahwa gelombang mikro yang keluar dari ponsel dapat memicu timbulnya penyakit “alzheimer” atau kepikunan lebih awal dari usia semestinya. Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menyebabkan menurunnya kemampuan berfikir serta kemampuan mengingat-ingat atau memori, sehingga gejala penyakit alzheimer mirip dengan orang tua yang pikun. Selain itu,menurut para ahli, untuk waktu kontak yang cukup lama, ada kemungkinan terjadi sterilisasi terhadap organ reproduksi. Kecenderungan ini lebih berdampak pada wanita, yaitu dapat mengurangi kesuburan produksinya. Untuk itu, sebaiknya para wanita bisa mengurangi penggunaan ponselnya.

Untuk mengetahui besar gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel,
Federal Communication Comission (FCC) Amerika telah menguji tingkat radiasi
yang dipancarkan beberapa ponsel. Kekuatan radiasi ponsel yang diterima otak
atau yang dinamakan SAR (Specific Absorption Rate) diukur dalam satuan

watt/kg. Badan ini menetapkan bahwa semua ponsel yang memancarkan radiasi
diatas 1.6 watt/kg dilarang utk diproduksi (dilarang masuk di Amerika-Red).
Sebenarnya semua ponsel yang beredar masih bisa dikategorikan “aman” karena
tingkat SAR-nya masih dibawah 1.6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa orang yang merasa agak pusing atau telinganya panas setelah menggunakan ponsel yang tergolong “aman” itu. Jadi sebetulnya, ponsel yang betul-betul aman adalah yang tingkat radiasinya dibawah 1 watt/kg. Di Indonesia sendiri jumlah ponsel sudah mencapai hampir sembilan juta buah sehingga potensi bahaya sekecil apa pun menjadi cukup signifikan untuk dicermati.
Kekhawatiran terhadap adanya radiasi elektromagnetik yang dikeluarkan oleh ponsel, ternyata telah dimanfaatkan secara psikologis oleh produsen peralatan proteksi radiasi yang ditimbulakan oleh ponsel. Pada saat ini memang telah diperdagangkan suatu alat yang dikatakan dapat memproteksi radiasi yang ditimbulkan oleh ponsel, terutama yang katanya dapat menembus dan mempengaruhi jaringan otak manusia. Seberapa jauh efektifitas alat proteksi radiasi yang ditimbulkan oleh pemakaian ponsel, sejauh ini masih perlu diteliti kebenarannya. Namun yang jelas, dampak psikologis terhadap kemungkinan adanya pengaruh radiasi elektromagnetik yang dikeluarkan oleh ponsel, telah dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjual peralatan proteksi tersebut. Peralatan proteksi radiasi tersebut ada yang berlabel buatan Amerika dan berbentuk cincin yang menurut “petunjukknya” harus ditempelkan pada bagian telinga agar radiasi elektromagnetik dari ponsel tidak sampai ke jaringan otak. Harga yang ditawarkan untuk peralatan proteksi radiasi tersebut berkisar Rp 25.000,- per buah. Ada juga peralatan lain yang dikatakan sebagai reduktor radiasi elektromagnetik ponsel berupa loudspeaker telinga yang dilengkapi dengan extension kabel atau lebih populer dengan sebutan alat “hands free”. Dengan alat hands free ini orang dapat berkomunikasi via ponsel tanpa memegang ponsel. Harga peralatan jenis terakhir ini ditawarkan dengan harga bervariasi antara Rp. 50.000 – Rp. 80.000,- tergantung dari jenis / merk ponselnya. Alat ini agaknya masih dekat denga tubuh karena pada umumnya dimasukkan ke dalam saku baju. Namun sekali lagi, seberapa jauh efektifitas peralatan proteksi radiasi elektromagnetik tersebut, kiranya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Tentu saja, adanya dampak-dampak pada kesehatan manusia dari penggunaan ponsel tidak membuat perusahaan ponsel berhenti begitu saja. Malah, para produsen telah mengeluarkan produk-priduk baru secara kontinu. Toh, sampai hari ini, penggunaan ponsel pun semakin marak Asalkan hati-hati saja dalam penggunaannya.