Tampilkan postingan dengan label cerita aza..... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita aza..... Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2008

Langkah Media dalam Titian Demokrasi di Indonesia

Ketika orang-orang telah menyadari bahwa waktu telah menggusarkan banyak keyakinan yang berlawanan, mereka mungkin jadi percaya, bahwa kebaikan tertinggi yang diinginkan bisa lebih baik diraih lewat pertukaran bebas ide-ide…”

AS Oliver Wendell Holmes-1919


Demokrasi menjadi ujung tombak sejarah baru di Indonesia dalam mempersepsikan kemerdekaan segala hak. Berlawanan dengan beberapa persepsi, suatu masyarakat demokratis yang sehat bukanlah sekedar gelanggang dimana individu-individu mengejar tujuan pribadi mereka sendiri.

Demokrasi tumbuh subur manakala ia dijaga oleh warga yang bersedia menggunakan kebebasan yang mereka capai dengan susah payah untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Mereka menambahkan suara mereka dalam perdebatan umum, memilih wakil-wakil yang dapat dimintai tanggung jawab atas tindakan mereka, dan menerima perlunya toleransi dan mufakat di muka umum.

Para warga demokrasi menikmati hak kebebasan individu, tapi mereka juga memikul tanggung jawab bersama-sama dengan orang lain untuk membentuk masa depan yang akan terus menjaga nilai-nilai mendasar kebebasan dan pemerintahan sendiri.

Demokrasi dalam ucapan Abraham Lincoln merupakan suatu pemerintahan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Kebebasan dan demokrasi sering dipakai secara timbale balik, tetapi keduanya tidak sama.

Demokrasi sesunggunhnya adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tetapi juga mencakup seperangkat praktek dan prosedur yang terbentuk melalui sejarah panjang dan sering berliku-liku. Pendeknya, demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan.

Menurut JW Johnson, agar sebuah masyarakat dianggap benar-benar demokratis, harus ada perlindungan dalam derajat tinggi untuk pengeluaran ide-ide dalam bentuk yang terpublikasikan, apakah mediumnya surat kabar, majalah, buku, pamphlet, film, televise, atau yang paling mutakhir, internet.

Pengalaman Amerika sepanjang periode dua abad menawarkan contoh gambling dari upaya sebuah Negara meletakkan aturan-aturan dasar untuk pengeluaran pendapat. Pengalaman-pengalaman ini, menurut Johnson menjadi unik untuk budaya dan sejarah Amerika Serikat, namun prinsip-prinsip umum yang mereka uraikan punya aplikasi luas dalam masyarakat demokratis lain.

Berbicara konsep demokrasi, Amerika selalu menjadi rujukan ideal dalam pelaksanaannya. Lalu, bagaimana konsep demokrasi di Indonesia? Peran media ternyata tak bisa lepas dari pelaksanaan demokrasi kita selama ini. Apalagi, sentuhan demokrasi yang belum merata, membuat media dituntut untuk lebih giat lagi menghadirkan dirinya di hadapan masyarakat. Sejauh ini, media hadir dalam ranah penjaringan opini publik (agenda publik dan agenda media). Lalu dengan hadirnya agenda publik, apakah sudah cukup menjadi alat keterwakilan masyarakat dalam pengambilan keputusan?


Politik, Demokrasi dan Media

Demokrasi, menurut Jay Rosen, haruslah mensyaratkan suatu pers yang bebas dan ekspresi yang bebas. Gambarannya adalah, pemerintah tidak dapat mengontrol apa yang ditulis atau disiarkan, dan ia tidak dapat menjebloskan orang ke dalam penjara karena pandangannya. Tanda yang paling jelas dari suatu rezim yang tidak demokratis adalah pelanggaran akan hal-hal fundamental ini.

Rosen melanjutkan, jika gagasan-gagasan mengalir secara bebas tetapi tidak menyentuh kehidupan rakyat, jika pers independent dari pemerintah tetapi dipenuhi oleh hal-hal sepele, jika lapangan public terbuka tetapi juga kosong, maka demokrasi dapat tergerus sebagaimana tentunya ia akan runtuh ketika hak-hak fundamental dilarang.

Jika telah memasuki ranah demokrasi di Indonesia, maka model demokrasi Amerika yang ditegaskan Rosen bukanlah bagian dari apa yang kita jalani sekarang. Demokrasi di Indonesia cenderung terbatasi oleh Undang-undang dan peraturan pemerintah. Pers bebas bertanggung jawab menjadi warna demokrasi yang wajib dijalankan media di seluruh Indonesia.

Berbicara perkembangan politik dan proses demokrasi di Indonesia, tampaknya tak bisa lepas dari peran opini publik sebagai satu cara pengukuhan demokrasi. Jurgen Habermas sendiri pun mengakui bahwa opini public menjadi wakil dari semua realitas yang ada dalam kehidupan sosial. Bahkan menyangkut peran media dalam proses demokrasi, Habermas malah memberikan lima fungsi dari media komunikasi yang dianggapnya ideal dalam masyarakat demokrasi. Yaitu;

  1. fungsi informasi

  2. fungsi pendidikan

  3. fungsi pengaktualisasian individu atau kelompok

  4. fungsi watchdog

  5. fungsi advokasi

Dari kelima fungsi yang diutarakan Habermas, menurut Houser, ternyata ada beberapa hal yang kemudian wajib dipatuhi pemerintah sebagai upaya pengenalan demokrasi. Pertama, lingkungan politik harus diterima oleh semua warga. Kedua, harus ada akses informasi. Ketiga, jaminan seseorang yang berpengaruh terhadap perpindahan informasi. Keempat, ada jaminan institusional (lingkungan publik).

Jika pers nasional, hendak diposisikan sebagai agent of reform, maka lembaga masyaraakt ini pantas pula memiliki kedudukan sebagai kekuasaan keempat (the fourth estate). Artinya, kedudukan pers sejajar dengan lembaga legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Boutros Boutros Ghali menganggap bahwa media saat ini sama pentingnya dengan cabang-cabang pemerintahan, dan memiliki dampak langsung pada setiap cabang-cabang tersebut: eksekutif, legislatif, dan bahkan yudikatif.

Untuk memiliki hak demikian, menurut A. Muis, pers mesti memiliki hak atau privelese tertentu, yaitu hak kritik, hak kontrol, dan hak koreksi. Juga, hak khusus bersyarat (qualified privilege) yang memungkinkan pers bersifat transparan dalam pemberitaannya. Misalnya, memebritakan secara detail perdebatan sengit dan kejadian lain dalam persidangan pengadilan, lembaga legislatif dan eksekutif.

Hak lain adalah hak untuk melaksanakan jurnalistik partisipasi. Misalnya, melibatkan pikiran dan perasaan sepenuhnya dalam suatu kejadian yang akan diberitakan (yang mempunyai nilai berita) dan atau menggabungkan teknik jurnalistik investigasi dengan teknik jurnalistik interpretasi. Dengan cara itu, pers bisa menjadi penjaga, pemantau, dan pengontrol terhadap jalannya pemerintahan atau mendorong terciptanya peemrintahan yang baik, yang bersih (good governance), dan pelaksanaan demokrasi.

Konsep kekuasaan keempat, menurut A.Muis, tak berarti lembaga itu harus “beroposisi” terhadap pemerintah atau “melawan pemerintah”. Namun, kurang lebih sama dengan kedudukan dan peranan parlemen. Kedudukan pers lebih ditekankan pada sifat independensi dan atau kebebasan menyebarkan informasi dan pendapat tanpa rintangan dari pemerintah. Pers hanya bertanggung jawab yuridis yang dilaksanakan pemerintah, dan juga bertanggung jawab etika yang dilaksanakan oleh organisasi pers.

Colin Seymour Ure menempatkan televisi sebagai bagian integral dalam Negara, dimana kehidupan politik mengambil tempat. Pertanyaannya kemudian, untuk apa dan bagaimana media tampil dalam hubungannya dengan teori demokrasi liberal. Jawabannya, adalah dengan menguji bagaimana struktur demokrasi dan lingkungan media di sekitarnya.

Kesimpulan sementara, media memiliki peran ganda dalam hal pelaksanaan demokrasi. Pertama, media massa mengemban fungsi reporting. Maksudnya adalah media massa berperan sebagai media penyajian kegiatan-kegiatan dan tindakan politik yang penting dalam bentuk gambar dan komentar. Kedua, media massa berfungsi sebagai poll-takers (pengumpul pendapat). Maksudnya adalah media massa berfungsi sebagai media dalam menyampaikan tanggapan-tanggapan publik terhadap suatu persoalan. Fungsi poll takers ini kadang-kadang diwujudkan secara formal melalui laporan tentang polling pendapat yang ilmiah, tapi umumnya melalui alasan-alasan informal tentang kecenderungan-kecenderungan reaksi publik.

Ada beberapa hal menyangkut demokrasi dan media yang patut menjadi bahan renungan. Pertama, adanya kegagalan dalam pendidikan politik mengakibatkan masyarakat kurang memahami proses demokrasi. Kedua, tidak adanya pilihan, dalam artian karena masyarakat kurang memahami prosesnya, maka masyarakat menjadi tidak memiliki pilihan yang lebih baik dari apa yang disuguhkan media dan pemerintah. Ketiga, adanya masalah dalam hal kapitalisme media dan kekuasaan. Keempat, izin yang berlebihan terkadang membuat media kebablasan dan tidak bisa mengukur dirinya sejauh mana keterlibatan mereka dalam proses demokrasi. Kelima, tidak jelasnya batasan obyektivitas media.

Minggu, 13 April 2008

behaviouralisme!

Judulnya; sebenarnya yang saya maksudkan itu adalah kebiasaan yang kemudian menjadi ideologi tersendiri dalam satu komune.
Terkadang, manusia memiliki kebiasaan yang membentuk perilakunya.Perilaku ini kemudian menjadikan dirinya memiliki parameter bagaimana dirinya kini.
seperti masyarakat yang terbiasa memberikan uang cepek kepada polisi untuk lari dari tilang.
Sering saya melihat, di akhir bulan, mobil dan motor polisi berseliweran di sana-sana sini dekat terminal bayangan angkutan umum. Kalau lagi apes, "pritttt!", mobil pun dihadang. Sopir mau tak mau harus menyerahkan beberapa lembar uang seribuan sebagai uang cepek buat polisi.
Tidak bermaksud menjelek-jelekkan institusi kepolisian, tapi kenyataannya memang seperti itu.
Beberapa kali angkot yang saya naiki di akhir bulan, walaupun dia tidak melakukan kesalahan (untuk ini sebenarnya, para sopir angkot tak tahu lagi mana aturan yang benar dan salah karena penegakan aturan ini memang tak jelas!), maka dia tetap harus memberi uang cepek.
Pernah suatu kali, di daerah depan mesjid raya ada mobil angkot yang diberhentikan oleh polisi.
Sopir Angkot yang saya naiki kemudian berkata kalau sepertinya dia akan menjadi korban berikutnya. Dia pun merasa lega, ketika polisi tak memberhentikan mobilnya. "Untung tak disuruh singgah!" kilahnya.

Behavioralisme yang saya maksud tidak hanya sekedar bercerita tentang pak polisi dan si sopir angkot. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang membentuk perilaku mereka. Seandainya, kebiasaan ini adalah sesuatu yang positif, tentu tak akan menjadi masalah. Tetapi, kalau berdampak negatif?
Kita mungkin tak pernah menyadari kalau hampir setiap harinya kita melakukan korupsi. paling kecil adalah korupsi waktu. Para PNS yang dataang ke kantor selepas pukul 8 pagi. Para PNS yang nongkrong di warung kopi pada jam kerja. Gambaran ini sebenarnya menunjukkan korupsi kecil yang menjadikan kita terbiasa. kemudian, tak lagi menjadi korupsi karena dianggap kebiasaan?
Masih banyak contoh kebiasaan yang negatif di sekitar masyarakat kita. Menjadikan kita masyarakat yang behaviouris!!!

Selasa, 01 April 2008

April Mop!!!


April Mop!!!!
Pernah dengar teriakan seperti itu? bahkan teriakan itu mengarah kepada anda? semasa saya SMU, salah seorang teman saya menjadi bahan April Mop teman-teman kelas yang memang jahil. Waktu itu, Icha (nama panggilannya), duluan keluar untuk mengikuti kegiatan olahraga. Nah, pada saat dia keluar, gank cewek di kelas saya kemudian memasukkan salah satu barang mereka ke dalam tas Icha.
Selepas olahraga, dan semua teman-teman masuk ke dalam kelas, salah seorang dari gank cewek itu kemudian berteriak kalau dia kehilangan sesuatu. Nah, teman-temannya pun berinisatif mencari di beberapa bangku dan tas yang ditengarai menjadi pelaku pengutilan.
Tentu saja dengan mudah barang itu pun didapat dalam tas si Icha. Sontak, para anggota genk cewek itu memarahinya, memakinya,dan meneriakinya.
Walaupun dia sudah bersumpah kalau bukan dia yang mengambilnya, tetap saja mereka menuduhnya. Akhirnya, si Icha berurai air mata, tertunduk, dan terdiam.
Setelah para anggota genk melihatnya menangis....mereka pun ramai-ramai berteriak; APRIL MOP!!!!!!!!!!
Bukannya, si Icha tertawa atau bahkan marah karena dikerjai, si Icha malah tambah menangis sejadi-jadinya. Bukannya karena ia tak terima dikerjai, tapi karena ia tak tahu apa itu April Mop.Hehehehe.....

Apa itu april Mop?
Menurut http://www.voanews.com/indonesian/archive/2002-04/a-2002-04-08-9-1.cfm

1 April Dikenal Sebagai April Mop di Indonesia

08/04/2002


Tanggal 1 April dikenal sebagai April Fools Day yang di Indonesia akrab sebagai April Mop. Bagaimana sejarahnya?

Jika anda dengar teriakan ini pada tanggal 1 April, berarti ada satu orang lagi tertipu! Pada hari ini orang percaya bahwa sah-sah saja membohongi orang lain. Misalnya menelpon orang untuk datang kerja padahal itu hari liburnya atau menukar isi tempat gula dengan garam atau memajukan jam seseorang sehingga ia hadir di suatu acara lebih awal dan masih banyak lelucon klasik lainnya.

Banyak website yang menawarkan cara-cara membohongi korban anda pada hari ini, Anda bisa klik, antara lain april1st.net, computer pranks.com. dan thefreesite.com

Media massa juga sering ikut memainkan lelucon pada hari yang oleh beberapa kalangan dianggap wajib untuk berbohong. Menurut snopes2.com, Lelucon sukses berhasil disebarkan sebuah stasiun radio di Canada, yang menyiarkan bahwa the Royal Canadian Mint, mencetak koin dua dolaran yang terbuat dari emas murni. Hebohlah pendengar mencarinya dalam kumpulan receh mereka. Sampai tangan pegel juga ngga bakal ketemu.

Salah satu kelakar yang sukses disiarkan media adalah yang pernah dilansir Panorama, acara TV BBC Inggris di tahun 1957. Penyiarnya mengatakan musim semi datang lebih awal tahun ini, dengan demikian panen spaghetti atau mi Itali itupun siap lebih awal. Laporan ini disertai video yang menggambarkan wanita petani yang sedang memanen spaghetti dari pohon. Tak lama setelah ditayangkan, BBC kebanjiran telepon yang menanyakan di mana persisnya acara panen itu dan dimana mereka bisa membeli pohon spaghetti! Heh…what next? Pohon nasi goreng?

Hari April Fools diduga mulai diperingati pada abad ke 16 di Perancis,. Menurut keterangan pada website USIS dulu awal tahun baru itu jatuh pada tgl 1 April. Cara merayakannya mirip dengan sekarang, dengan pesta, dansa dansi hingga pagi. Kemudian th 1562, Paus Gregory memperkenalkan kalender baru yang tahunnya diawali bulan Januari. Tetapi ada beberapa kalangan yang belum dengar atau tidak percaya adanya perubahan ini. Jadi mereka terus memperingati tahun baru pada tanggal 1 April. Orang2 inilah yang disebut April Fools atau secara harafiah berarti orang2 yang tertipu di bulan April.

Teori lain yang dimuat The Washington Post mengatakan tradisi ini dimulai pada jaman Romawi kuno, saat orang merayakan festival Ceres awal April. Ceres adalah dewi panen yang putrinya diculik Pluto, dewa dunia gaib. Ceres diceritakan mengikuti gema suara teriakan anaknya, hal yang mustahil, sebab gema sangat sulit dicari sumber asalnya. Sehingga Ceres dikatakan melaksanakan “a fools errand” atau tugas orang bodoh.

Kebiasaan membohongi teman dan anggota keluarga ini, diduga menyebar dari Perancis, ke Inggris dan Skotlandia, lalu ke Amerika waktu terjadi emigrasi orang Eropa ke sana.

Di Perancis ,disebut Poisson d’avril atau ikan April. Mereka percaya ikan kecil itu gampang tertangkap atau tertipu.Di Skotlandia istilahnya April gowk, yang berarti burung tekukur yang disana melambangkan kepolosan. Di sana, April Fools Day malah diperingati selama dua hari. Hari kedua khusus untuk meledek anggota badan dan disebut Taily Day. Oke2 aja kalau anda menempel tulisan “Kick Me” pada bokong teman anda.

Lain lagi di Inggris, kalau anda tertipu and disebut April noddie. Di Indonesia sendiri populer dengan nama April Mop. Dalam bahasa Belanda mop berarti kelakar.

Ada sebuah kesimpulan mengenai hari penuh lelucon ini, mengutip penulis terkenal Mark Twain :The first day of April is the day we remember what we are the other 364 days of the year.

Sekarang tinggal pilih anda mau jadi orang yang ngibulin atau dikibulin?

Kamis, 24 Januari 2008

tempe


sedih juga yah dengar harga kedelai naik. padahal hampir lebih dari separuh penduduk di indonesia adalah konsumen tempe. beberapa hari lalu, saya sempat liat tayangan save our nations nya Metro TV. kata salah satu narasumbernya, indonesia sebenarnya sekitar1600 hektar itu pernah menjadi lahan pertanian kedelai. tapi beberapa tahun berikutnya, sisa 400 hektar. mengapa terjadi pengurangan? karena masalah klasik. petani merasa tidak mendapatkan keuntungan besar.
kedelai yang mereka jual ternyata harganya lebih mahal dari kedelai impor. makanya, kemudian petani malas bertani kedelai lagi. untuk itu, narasumbernya, pak siswono yudohusodo mengusulkan agar segala barang impr itu dikenakan biaya khusus untuk masuk indonesia. untuk menaikkan harga katanya kan tidak mungkin. jadi lebih baik dikenakan biaya khusus sampai bisa sama dengan harga jual petani kita.
selain itu, menarik disimak salah satu iklan prabowo yang baru-baru ini muncul (kerjasama dengan HKTI) prabowo memproklamirkan agar masyarakat lebih condong untuk menggunakan produk tani indonesia.